"Abang Aku Hamil"

Salah satu pergumulan anak muda yang tidak sering dibicarakan adalah pergumulan menjaga batas dalam masa berpacaran. 

Kita tahu batas yang seharusnya dijaga namun kita tidak selalu berhasil menjaganya. Kita merasa bersalah namun kita sukar menghentikannya. 

Seharusnya dalam menghadapi pergumulan ini kita berbagi beban dan meminta bantuan pembimbing rohani namun itulah yang jarang dilakukan. 

Pada umumnya kita takut membicarakannya karena malu. 

Akhirnya banyak di antara kita yang berhenti bergumul dan malah menyerah pada godaan. Tidak jarang, sebagai akibat dari perbuatan kita itu, kehamilan terjadi. 

Kita pun menjadi takut dan merasa malu dan kadang terlalu bingung untuk mengambil keputusan.

Berikut beberapa masukan yang layak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

♠ Mesti bertekad untuk tidak menambah dosa di atas dosa yang telah dilakukan. Jadi, buanglah jauh-jauh pikiran untuk menggugurkan anak dalam kandungan jika ternyata sudah hamil. 

Keputusan memelihara anak adalah keputusan yang berkenan kepada Tuhan. Sebaliknya, menggugurkan kandungan tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab Tuhanlah yang menciptakan anak-dari awal hingga lahir.

♠ Mesti melihat kehamilan dari perspektif Allah sendiri. 

Tuhan menggunakan pelbagai cara untuk membawa seorang anak lahir ke dalam dunia. Sudah tentu, sewaktu kita berkata, Tuhan menggunakan pelbagai cara, itu tidak berarti bahwa semua cara adalah cara yang diperkenankan Tuhan. 

Tidak! Seperti anak yang lahir di luar nikah, kendati hubungan itu sendiri adalah dosa namun anak yang dikandung berada dalam kehendak Allah. Itu sebabnya kita mesti memisahkan hubungan atau penyebab lahirnya anak dan anak itu sendiri. Roma 8:28 memberi kita kejelasan akan cara kerja Allah yang sempurna.

♠ Harus selalu mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. 

Janganlah memutuskan untuk langsung menikah hanya karena terlanjur hamil bila kita memang belum siap menikah. 

Pernikahan yang tidak dikehendaki/terpaksa menikah karena kehamilan, hampir dapat dipastikan akan menjadi pernikahan bermasalah. Jadi, jangan menyelesaikan masalah dengan cara menciptakan masalah baru.

♠ Jika memang belum siap menikah, putuskanlah untuk mengandung dan melahirkan anak-di luar pernikahan. 

Dalam hal ini silakan cari orang tua yang tengah mencari anak untuk diadopsi atau hubungi lembaga adopsi. Kita juga dapat menghubungi pelayanan Kristiani yang menampung ibu yang hamil di luar nikah. 

Atau, pilihan akhir adalah kita merawat dan membesarkan anak itu sendiri. Semua pilihan ini memang memerlukan pengorbanan namun pada akhirnya kita tahu bahwa kita telah menyelesaikan masalah dengan cara yang terbaik dan berkenan kepada Tuhan.

♠ Evaluasi ulang hubungan dengan pacar. 

Tidak jarang lewat kehamilan, kita memperoleh pengertian yang lebih mendalam dan tepat akan siapakah dia. 

Sudah tentu pengertian ini bisa bersifat positif ataupun negatif. Sekali lagi, selalu pertimbangkan dampak jangka panjang. Ingat, tidak ada keharusan buat kita menikah dengan dia; jadi, bila pada akhirnya kita tahu bahwa dia memang bukanlah pasangan hidup yang sesuai, akhirilah hubungan itu.

♠ Oleh karena telah berjalan dalam kehendak Tuhan dan bertindak bijaksana, kita pun dapat memperoleh keyakinan bahwa Tuhan akan terus menuntun langkah hidup kita. 

Jangan takut akan masa depan. Jika memang Ia berkehendak kita menikah, kita akan menikah. Ia akan menyediakan seseorang yang dapat mengasihi dan menerima kita apa adanya. 

Sebaliknya, bila memang Tuhan berkehendak lain, Ia akan memampukan kita hidup untuk-Nya sebagai lajang. Satu hal yang mesti kita camkan adalah bahwa Tuhan memberi kita kesempatan kedua untuk memuliakan NamaNya

Semoga bermanfaat, Tuhan Yesus memberkati

Gunung Sitoli, 12 Oktober 2018

Pdt. Aner Abraham Nitti Runesi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Usif Tefa Koroh

Arti dan Strata Sosial Berdasarkan Lipatan Piru/destar Amarasi

FAKTA! AMARASI DIJAJAH BELANDA HANYA 190 TAHUN